Pada awalnya aku bingung dengan kehadirannya yang tanpa di undang sudah datang terlebih dahulu. 'Ini siapa? Kok berani banget gabung sama orang ga dikenal' batinku pada saat itu.
"Ikut join dong," serunya kala itu. Aku mengernyit bingung dengan ucapan dia, namun pada saat itu terdapat Hana yang pernah sekelas bareng dengan siswi tersebut— Anindita, saat Sekolah Dasar. Jadi, Hana langsung mengiyakan ucapan siswi itu tanpa adanya basa-basi.
Walaupun kami masih bingung akan kehadirannya, tetap saja pada ujungnya kami berbincang-bincang bersama. Sampai pada akhirnya ada salah satu dari kami berlima yang berceletuk, "Eh, ayo kita buat sirkel bareng!" Entah mengapa secara serentak kami berkata 'ayo' tanpa memikir dua kali apa yang kita ucapkan sebelumnya.
"Karena kita berlima, nama sirkel nya jadi Magic Five," seru aku. Sebenarnya aku menyebut nama Magic Five karena adanya sinetron televisi bernama Magic Five yang sedang naik daun kala itu, dan karena sinetron tersebut juga beranggotakan lima orang yang sesuai dengan anggota kami.
Setelah perkataan ku terucap, lantas mereka berempat tertawa lepas karena ucapan ku tadi. Aku tahu mereka tertawa karena sinetron tersebut kurang memadai bagi kami para remaja. "Cakep loh, nanti kita bagi-bagi peran kita sesuai yang tertera di sinetronnya," ucap ku kembali.
"Ganti aja, namanya terlalu mengcopy paste judul sinetronnya. Gimana kalau mejikom aja?" saut Anindita yang dibalas dengan ketawa kencang dari kita semua. Pikiranku saat itu, mengapa Anin ini polos banget kalau berucap. Aku juga sempat berpikir bahwa Anin ini adalah anak yang paling gemar berbicara asal-asalan. "Sekalian aja kita buat grup barengnya!" ucap Queena menawarkan ajakannya.
"Boleh! Nanti aku yang buat grupnya," ujar Anin kembali membalas ucapan Queena. Dengan penuh tawa dan cerita, kami kembali berbincang-bincang bersama-sama tanpa mengecualikan siapapun yang sedang ikut berbicara.
Aku kembali mengingat, bahwa kami membuat sirkel-sirkelan seperti ini bukan karena hal semata. Hal ini kami berani lakukan karena kami berlima saja anggota yang tidak mempunyai sirkel. Teman kami yang lain sudah mempunyai sirkel sendiri-sendiri sehingga pada akhirnya Tuhan menakdirkan kita berlima berkumpul bersama bahkan sampai membuat sirkel yang masih utuh sampai sekarang.
Karya Cipta Rusmalinda, peserta didik SMP Plus El-Wafa kelas VIII.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar